Kajian Rahasia Hari bag.1


KAJIAN RAHASIA HARI

(Bagian 1)

Kajian kali ini akan membahas tentang kajian rahasia hari berkaitan dengan ilmu spiritual. Untuk mengetahui rahasia dibalik pemakaian hari dalam sebuah ritual amalan ilmu spiritual. Khususnya budaya Jawa dan Aji Japa-mantra. Mungkin pernah terbesit rasa ingin tahu dalam benak anda: mengapa amalan ilmu A dimulai hari Senin Kliwon, Amalan ilmu B diawali hari Selasa Kliwon dan lain sebagainya. Penentuan hari dalam suatu ritual amalan ilmu memiliki dasar alasan. Para leluhur dan pinisepuh ilmu batin tidaklah sembarangan dalam memberi tuntunan ilmu. Walaupun terkadang sulit diterima nalar, tetapi setidaknya selalu memiliki dasar alasan.

Pergerakan Alam

Dalam pandangan ahli spiritual setiap fenomena alam memiliki rahasia dan akan mencerminkan watak (karakter) tersendiri. Termasuk fenomena perubahan “hari” dalam sistem penanggalan. Mengapa bisa demikian? Dikarenakan gerakan bumi tidak pernah berhenti, maka setiap detik posisinya berubah. Untuk kembali pada posisi yang sama, membutuhkan siklus waktu tertentu. Sirklus jam, sirklus hari, bulan, tahun, pasaran (Legi, Pon dsb), Wuku dan lain sebagainya. Pada intinya setiap siklus berhubungan dengan posisi orbit bumi.

Dengan latar belakang tersebut, maka kelahiran manusia dan kejadian di alam semesta ini (misalnya musim) dengan sendirinya akan menempati salah satu siklus diantara siklus-siklus yang ada. Misalnya manusia yang dilahirkan pada hari Senin, akan masuk ke dalam siklus Senin yang telah dihuni oleh banyak orang sebelumnya, yang lahir pada hari yang sama. Oleh karena itu secara umum mereka menjadi satu wadah yang bernama siklus. Maka berdasarkan ‘Ilmu Titen’ atau ilmu hasil dari mengenali / mengamati dan terus berlangsung turun-temurun, watak seseorang atau pergerakan alam secara garis besar dapat dikenali bahkan diprediksi.

Sirklus Jam

Hari dalam bahasa Jawa disebut “dina” (dino). Sebagaimana telah kita ketahui bahwa satu hari adalah sebuah unit waktu yang diperlukan bumi untuk berotasi (berputar) pada porosnya sendiri. Unit waktu ini bisa berupa detik, menit ataupun jam. Jaman sekarang 1 hari = 24 jam, atau jika dihitung dalam menit, 1 hari = 1440 menit. Jika dihitung dalam detik, 1 hari = 86400 detik.

Jadi Bumi membutuhkan waktu 24 jam untuk sekali berputar pada porosnya. Akibat rotasi ini terjadilah fenomena siang dan malam. Dimana bagian sisi bumi yang menghadap Matahari mengalami masa Siang (terang), sedangkan bagian sisi bumi yang membelakangi Matahari mengalami masa Malam (gelap).

Jutaan tahun yang lalu 1 hari tidak berlangsung lama seperti sekarang ini (24 jam) mungkin hanya 18 jam saja. Penyebabnya karena Rotasi bumi ketika itu berlangsung lebih cepat. Sebab jarak Bulan (Moon) dengan Bumi lebih dekat daripada jarak sekarang. Begitu pula sebaliknya, dimasa yang akan datang (jutaan tahun lagi) 1 hari bisa berlangsung semakin lama, hingga 30 jam. Sebab jarak Bumi dan Bulan semakin menjauh, akibatnya bumi berrotasi lebih lambat. Setiap fenomena alam yang terjadi akan membawa dampak pengaruh bagi penghuni alam khususnya manusia.

Sirklus Tujuh Hari = seminggu

Mencari tahu asal muasal “1 minggu = 7 hari” tidaklah mudah. Cukup sulit mencari kebenaran teori dibalik penentuan “1 minggu = 7 hari”. Banyak teori yang berbeda-beda bahkan saling berseberangan. Ada yang berdasar ajaran agama (kitab suci), Mitos Dewa-dewa penguasa 7 planet, praktek perhitungan geometri primitif dan lain sebagainya.

Tetapi perlu diketahui bahwa tidak semua bangsa meyakini “1 minggu” terdiri dari 7 hari. Misalnya, orang Mesir kuno memakai hitungan 1 minggu = 10 hari. Kalender Maya memakai 13 dan 20 hari dalam seminggu. Orang Lithuania memakai 9 hari dalam seminggu, dan lain sebagainya. Lalu bagaimana dengan siklus hari dalam budaya Jawa?

Sirklus Hari dalam penanggalan Jawa.

Sedangkan dalam budaya Jawa, sistem sirklus hari ada bermacam-macam. Sebenarnya jaman dahulu orang Jawa kuno mengenal 10 jenis minggu. Dari seminggu yang jumlahnya hanya satu hari, hingga Seminggu yang jumlah harinya terdapat 10 hari. Nama macam-macam minggu tersebut adalah Ekawara, Dwiwara, Triwara, Caturwara, Pancawara, Sadwara, Saptawara, Hastawara, Nawawara dan Dasawara.

Untuk lebih jelasnya perhatikan perumusan tata penanggalan Jawa sebagai berikut :

  • Perhitungan hari dengan siklus 5 harian disebut sebagai Pancawara – Pasaran. (Artinya dalam 1 minggu (Pancawara) hanya ada 5 hari)
  • Perhitungan hari dengan siklus 6 harian disebut Sadwara – Paringkelan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 7 harian disebut Saptawara – Padinan.
  • Perhitungan hari dengan siklus 8 harian disebut Hastawara – Padewan
  • Perhitungan hari dengan siklus 9 harian disebut Sangawara – Padangon
  • Perhitungan hari dengan siklus mingguan (7 hari) terdiri 30 minggu disebut Wuku.

Namun jaman sekarang yang biasa dipakai hanya 2 jenis minggu saja, yaitu Pancawara (pasaran) dan Saptawara (Padinan). Misalnya Senin Legi, Selasa Pahing dan seterusnya. Perubahan penanggalan Jawa ini terjadi masa pemerintahan Sultan Agung Prabu Hanyakrakusumo di Kerajaan Mataram Islam Jawa Tengah. Saptawara dipakai karena dinilai universal (sirklus 7 hari). Sedangkan Pancawara tetap dipakai karena melambangkan jati diri manusia Jawa yang berbudaya.

Dalam kajian kali ini kita hanya akan membahas Perhitungan hari dengan siklus 7 hari. Atau dalam bahasa Jawa disebut Saptawara (Padinan) dan Sirklus 5 hari (Pancawara).

Dalam kitab Primbon, dijelaskan orang Jawa percaya bahwa hitungan 7 hari dalam seminggu bermula ketika Tuhan menciptakan alam semesta ini dalam 7 tahap. Dimana tahap pertama diawali hari Ahad (Minggu).

  • Pertama, Ketika Tuhan memiliki kehendak ingin menciptakan dunia. Kehendak Tuhan ini lalu disimbolkan dengan MATAHARI yang bersinar sebagai sumber kehidupan.
  • Kedua, ketika Tuhan menurunkan kekuatanNYA untuk menciptakan dunia. Kekuatan Tuhan itu lalu disimbolkan dengan BULAN yang bercahaya tanpa menyilaukan.
  • Ketiga, Ketika kekuatan Tuhan tadi mulai menyebarkan percik-percik sinar Tuhan. Percik sinar Tuhan itu lalu disimbolkan dengan API yang berpijar.
  • Keempat, Ketika Tuhan menciptakan dimensi ruang untuk wadah alam semesta. Dimensi ruang itu lalu disimbolkan dengan BUMI menjadi tempat makhluk hidup.
  • Kelima, Ketika tuhan menciptakan panas yang menyalakan kehidupan. Panas yang menyala itu lalu disimbongkan dengan ANGIN yang bergerak dan petir yang menyambar.
  • Keenam, Ketika tuhan menciptakan air yang dingin. Air yang dingin itu lalu disimbolkan dengan BINTANG yang mirip titik-titik air yang menyejukan.
  • Ketujuh, Ketika Tuhan menciptakan unsur materi kasar sebagai dasar pembentuk kehidupan. Materi kasar itu lalu disimbolkan dengan AIR sebagai sumber kehidupan.

Perlu dipahami bahwa penyebutan elemen (anasir) ini hanyalah sebagai simbol. Bukan merupakan urutan kejadian alam semesta itu sendiri. Simbol inilah yang nantinya digunakan dalam mengenali watak (karakter) hari.

Arti Nama Hari

Dalam penyebutan nama-nama hari disetiap bangsa juga memiliki perbedaan. Dan tentu saja memiliki makna dan alasan tersendiri. Sedangkan nama hari dalam penanggalan Jawa sejak masa pemerintahan Kanjeng Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma di Kerajaan Mataram Islam memakai istilah Arab yang sudah dilafalkan dalam lidah Jawa. Sebelumnya nama hari masih memakai istilah Jawa kuno yaitu :

Nama Hari Siklus 7 hari, Saptawara = Padinan:

  • Radite = Akad
  • Soma = Senen
  • Anggara = Slasa
  • Budha= Rebo
  • Respati = Kemis
  • Sukra = Jemuwah
  • Tumpak/Saniscara = Setu

Asal kata dan Arti nama Hari (Padinan)

  • Akad (minggu), berasal dari kata Arab “ahad”, yang berarti hari pertama.
  • Senen (Senin), berasal dari kata Arab “istnain”, yang berarti hari kedua.
  • Slasa (Selasa), berasal dari kata Arab “tsalatsah”, yang berarti hari ketiga.
  • Rebo (Rabu), berasal dari kata Arab “arba’ah”, yang berarti hari keempat.
  • Kemis (Kamis), berasal dari kata Arab “khamsah”, yang berarti hari kelima,
  • Jemuwah (Jum’at), berasal dari kata Arab “jumu’ah”, yang berarti hari untuk berkumpul,
  • Setu (Sabtu), berasal dari kata Arab “sab’ah” (sabat), yang berarti hari ketujuh.

Jelas bahwa nama-nama hari yang sampai sekarang digunakan itu (Senin, Selasa dst) merupakan perpaduan peradaban Islam dan kebudayaan Jawa. Dipakai sejak pergantian Kalender Jawa asli (Tahun SAKA) menjadi kalender Jawa Sultan Agung (Anno Javanico – Tahun AJ). Pergantian kalender itu mulai 1 Sura, tahun Alip 1555. Yang jatuh pada tanggal 1 Muharam 1042. Atau bertepatan dengan kalender Masehi 8 Juli 1633. Angka tahun AJ itu meneruskan angka tahun Saka yang waktu itu sampai tahun 1554, sejak itu tahun Saka tidak dipakai lagi di Jawa, tetapi hingga kini masih digunakan di Bali.

Tahun Jawa dan tahun Islam (hijriyah) adalah penanggalan Qomariyah atau sistem Lunar (bulan) yang mengikuti peredaran bulan kepada bumi. Maka perhitungan hari pun dimulai pada senja hari, saat awal munculnya rembulan malam atau saat Maghrib.

Sedangkan tahun Masehi dan tahun Saka Hindu adalah penanggalan Syamsiyah atau sistem solar (Matahari) yang mengikuti peredaran bumi terhadap Matahari. Pergantian hari dalam penanggalan Masehi yang dimulai pada pukul 12 malam.

bersambung…

—***—

Ki UmarJogja
www.rasasejati.org




You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

14 komentar di “Kajian Rahasia Hari bag.1

  • Erwan mengatakan:

    Baguz bgt ki. .
    Smoga d kasih nikmat kesehatan n waktu luang yg byk agar bs melanjutkan . .amien

  • saka mengatakan:

    salam pamuji rahayu ki umar…

    artikel bagus ki,,, saya salut sama ki umar,,,
    nguri-uri kabudayan jawa,,, apalagi kejawen,,, jadi kangen eyang yang dulu sering mengajarkan kejawen, tapi dulu saya ndak dong, dan sekarang lupa ki,, hee,,,, (^_^)v
    mohon maafkan saya yang bodoh ini,,, (T.T)

    dan sejujurnya banyak pemahaman yang saya dapat dari blog ini,,, terimakasih kepada ki umar yang selalu menyediakan waktu untuk segala pemahamannya ki,,, dan mohon ijin untuk selalu menyimak blog ini ki, serta mohon doa semoga semesta alam kembali membaik tentram dan nyaman hingga yogyakarta pun kembali berhati nyaman… tidak status awas lagi,,,
    mugi barokah tansah pun paringaken dateng ki umar,,,

    mator nuwon ki,,, salam hormat…

  • budi mengatakan:

    asslamualaikum wr.wb
    salam sejahterah kepada ki umar jogja saya tertarik sekali. sudah menjabarkan tentang hari. kalau beloh saya tahu bagaimana cara menghitung hari lahir ki, kan ada satu hari yg paling bagus lagi dalam penagalannya ? itu yg saya mau tau karena ada satu hari yg utk puasa melek bukan saja hari lahir saja ? mohon pejelasan dan balas ki jogja . sebelumnya saya minta maaf klu ada yg salah kata2x atau pengetikannya ki terima kasih. atas bantuannya .

  • rian mengatakan:

    Assalamu ‘alaikum wrwb.

    mohon bantuan dan bimbingan nya guru.

    saya bermakud ingin melakukan puasa weton, tp hati saya masih ragu.
    menurut ibu saya, saya lahir jum’at pahing pada jam 7 malam, sdngkn menurut perhitungan jawa/lunar bulan, pergantian hari dimulai setelah matahari terbenam, berarti hari kelahiran saya sudah memasuki hari sabtu pon menurut perhitungan jawa.
    tgl lahir 21.01.1983
    menurut guru weton saya yg sebenar nya apa?

    mohon bantuan dan bimbingan nya agar saya lebih mantap dlm berikhtiar dan riyadhoh.

    teriring do’a untuk kesehatan dan kesuksesan guru sekeluarga.

    Wassalamu ‘alaikum wrwb.

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Ikuti apa yang selama ini diyakini ibunda anda (Sabtu Pon), sebab beliau sudah membangun pondasi spiritual sejak anda lahir. Misalnya dengan syukuran, ritual weton, atau acara-acara sejenis yang biasa dilakukan oleh ibu-leluhur sejak dulu. Anda yang kini sudah dewasa tinggal meneruskan saja, salah satunya dengan menjalankan puasa weton.

      Nuwun

  • farhat mengatakan:

    Ki Umar, saya ingin tahu bagaimana dahulu sultan Agung menkonversikan sistem 5 hari dalam seminggu (legi, pon, dll) ke dalam hari 7 dalam seminggu (akad, senin, sloso, dst.) ? terima kasih sebelumnya.

  • yusuf mengatakan:

    ada yang ingin saya tanyakan mengenai sistem pengaturan waktu pergantian hari menurut hijriah.
    seperti yang kita ketahui bersama bahwa pengaturan waktu pergantian hari menurut GMT adalah jam 00.00. yang artinya kalau ditanya “kapan pertengahan hari menurut GMT” jawabannya adalah jam 12.00 (siang), dan hal tersebut sangat sesuai dengan posisi matahari yang pada jam tersebut secara visual tepat berada di tengah-atas.

    kemudian, jika menurut pengaturan hijriah mengenai pergantian hari adalah sekitar jam 18.00, maka pertengahan harinya adalah sekitar jam 06.00(pagi), yang pada saat itu posisi matahari secara visual berada di ufuk barat atau sebelah kiri (jika kita menghadap ke arah utara).

    pertanyaannya, pertengahan hari yang tepat menurut ilmiah itu ketika matahari berada di tengah-atas atau di sebelah kiri (jika kita menghadap ke arah utara)?

    mohon pencerahannya!
    wassalam!

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Salam,

      Jika dicari jawaban secara ilmiah bukankah seharusnya dihitung panjang siang lalu dibagi dua. Waktu terbit matahari hingga terbenam matahari dapat diketahui jam-nya. Kalau dalam ilmu hikmah ada ilmu Falak khusus yang membagi 24 jam 2 yaitu jam siang dan jam malam lalu masing-masing dibagi menjadi 12 bagian (sa’at) Zuhal, Mustary, Mariks, Syam, Zuhra, Athroriq, Qomar.

  • dhody mengatakan:

    Ass.wr.wb
    Alhamdulillah setelah membaca tulisan di blog ini sy mendapat ilmu lagi tentang weton, terima kasih ki umar sy orang jawa yg lahir di sulawesi selatan jadi sedikit tau apa itu weton. Sy minta izin sama ki umar untuk mengamalkan amalan2 di blog ini.. Semoga ki umar dan keluarga selalu dalam lindungan Allah swt.. Amin

  • ROBBY mengatakan:

    ki umar yg terhormat, sy mau tanya, nabi MUHAMMAD SAW, melakukan puasa senin kamis karena beliau lahir pd hari senin dan istrinya pd hari kamis, pertanyaanya adalah apakah kita harus spt nabi atau kita harus puasa menurut hari kelahiran kita sendiri, trima kasih

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Salam

      Puasa Senin-Kamis adalah ajaran agama (sunah Nabi), tetap diamalkan sebagaimana mestinya. Sedangkan puasa weton merupakan ajaran budaya, sebentuk amaliyah yang baik dalam mensikapi hari kelahiran, daripada dirayakan dengan hura-hura bukankah lebih baik bila diisi dengan amalan muhasabah dan puasa? Dan itu tidak dilarang sebab kitapun beritiba’ kepada Nabi saw.

  • Turmudin mengatakan:

    Assalamu’Alaikum Wr.Wb.

    Ki guru.sya kan kta ortua sya tgl kelahirannya 9-2-1984 hri rabu.tapi ko gap pas ya harinya.tp klo thn 1983 pas hari rabu.weton kamis pahing.itu gmana ki.tgl thn ama hri lahir sya yg gk pas?

    trimaksh.
    Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Dalam hal ini Tanggal tidak perlu dipermasalahkan yang lebih penting adalah anda sudah tahu hari kelahirannya (weton). Sebab weton inilah yang nanti digunakan untuk momen muhasabah & puasa.





%d blogger menyukai ini: