Kajian Rahasia Hari bag.2


KAJIAN RAHASIA HARI

(Bagian 2)

PASARAN

Pasaran berasal dari kata dasar “pasar”, mendapat akhiran –an. Pasaran adalah sirklus mingguan yang berjumlah 5 hari. Yaitu Legi, Paing, Pon, Wage dan Kliwon. Disebut pasaran karena sistem ini lazim dipakai untuk membagi hari buka pasar (tempat jual beli) yang berada di 5 titik tempat.

Pada jaman dahulu salah satu sistem pemerataan perekonomian rakyat diatur dengan pembagian tempat jual beli (pasar). Yang berjumlah 5 titik tempat mengikuti arah mata angin (Timur, Selatan, Barat, Utara dan Tengah). Pasar Legi berada di Timur, Pasar Pahing berada di Selatan, Pasar Pon di Barat, Pasar Wage di Utara dan Pasar Kliwon berada di pusat / tengah kota. Pasar ini buka secara bergantian, mengikuti sirklus pasaran (pancawara) tersebut.

Sedangkan dalam masyarakat Melayu Islam, tempat jual beli (pasar) disebut pekan. Dan hari pasar memakai sirklus mingguan yang berjumlah 7 hari (Senin, Selasa dst). Misalnya ada Pasar Minggu, Pasar Senen dan seterusnya. Oleh sebab itu seminggu (7 hari) dalam  bahasa Melayu disebut juga sepekan (pekan=pasar).

Dengan demikian tidaklah aneh bila penamaan hari dan pasaran seperti Senin Kliwon, Selasa Legi dan seterusnya itu hanya dikenal di Jawa saja.

Menurut kepercayaan Jawa, hitungan Pasaran yang berjumlah lima itu sejalan dengan ajaran “Sedulur papat, kalima pancer”. Empat saudara, kelimanya pusat. Ajaran ini mengandung pengertian bahwa setiap diri manusia mempunyai empat saudara. Disebut saudara sebab keberadaannya ada sejak manusia masih dalam kandungan ibu. Pancer adalah diri kita (ke-aku-an atau Ego). Juga berkaitan dengan 4 unsur anasir pembentuk raga atau jasad yaitu tanah, air, api dan udara.

Hubungan pasaran, empat unsur dan Sedulur 4 itu adalah sebagai berikut :

Pasaran Legi bertempat di Timur, Anasir (elemen) Udara, memancarkan sinar (aura) putih.
Pasaran Paing bertempat di Selatan, anasir Api, memancarkan sinar merah.
Pasaran Pon bertempat di Barat, anasir Air, memancarkan sinar kuning.
Pasaran Wage bertempat di Utara, anasir Tanah, memancarkan sinar hitam.
Pasaran Kliwon tempatnya di pusat atau di tengah, anasir Eter, memancarkan sinar manca warna.

HUB PASARAN, MATA ANGIN, ELEMEN, WARNA
WAGE
UTARA
TANAH
HITAM
PON
BARAT
AIR
KUNING
KLIWON
PANCER
ETER
MANCA WARNA
LEGI
TIMUR
UDARA
PUTIH
PAHING
SELATAN
API
MERAH

NEPTU

Neptu adalah nilai angka yang disematkan pada tiap-tiap hari dan pasaran. Neptu singkatan (jarwo dhosok) dari “geneping wetu” (penggenap keluarnya sebuah uraian), karena neptu memang digunakan untuk mewakili suatu hal dalam sebuah perhitungan (petungan).

Neptu Hari

  • Minggu neptu 5
  • Senin neptu 4
  • Selasa neptu 3
  • Rabu neptu 7
  • Kamis neptu 8
  • Jumat neptu 6
  • Sabtu neptu 9

Jumlah NEPTU HARI = 42

Bila diperhatikan dari urutan angka Neptu maka akan didapat bahwa hari JUMAT berada pada posisi tengah (PANCER). Sedangkan dalam sirklus Pasaran, KLIWON adalah PANCER.

Neptu Pasaran

  • Kliwon neptu 8
  • Legi neptu 5
  • Pahing neptu 9
  • Pon neptu 7
  • Wage neptu 4

Jumlah NEPTU PASARAN = 33

Jika neptu hari dan pasaran dijumlahkan : 42 +33 = 75.

Angka 75 ini bila dipecah :

7 = merupakan jumlah hari yang ada (7 hari)
5 = jadi jumlah pasaran 5.

Sedangkan bila kedua angka tersebut dijumlahkan maka akan ketemu jumlah bulan. 7 + 5 = 12 menjadi jumlah bulan dalam 1 tahun.

Penggabungan sirklus Hari dan Pasaran ini akan membentuk sirklus hari yang totalnya jumlahnya 35 hari. Para sesepuh Jawa banyak menggunakan neptu ini untuk berbagai macam perhitungan (petungan) nasib dan karakter.

Karakteristik HARI dan PASARAN

Menurut para sesepuh dan pinisepuh Jawa, setiap Hari dan Pasaran memiliki karakteristik tersendiri yang dipercayai berpengaruh kepada baik dan buruknya segala hal yang akan dikerjakan saat hari dan pasaran itu.

Karakteristik Hari, Pasaran dan Neptu

Arti Watak Hari dan Pasaran :

  • Lakune geni gedhe : watak baik, menggambarkan sumber kekuatan
  • Sri Kombang : watak baik, menggambarkan kemasyuran
  • Sri Agung : watak baik, menggambarkan kemuliaan
  • Gigis Wunu : watak kurang baik, menggambarkan kerugian
  • Pathol : watak buruk, menggambarkan penyakit
  • Peso : watak buruk, menggambarkan bahaya

Para sesepuh dan pinisepuh Jawa juga memakai karakteristik Hari dan Pasaran ini guna menentukan hari untuk menurunkan ilmu spiritual kepada muridnya. Biasanya dicari hari yang berkarakter baik atau memakai dasar hitungan neptu berjumlah 40. Jika dilihat dari tabel diatas, JUMAT LEGI adalah saat yang terbaik, karena menggambarkan sumber kekuatan (lakune geni gedhe). Itulah sebabnya masyarakat Jawa Timur, lebih memuliakan Jumat LEGI untuk keperluan mencari ilmu spritual. Sedangkan orang Jawa tengah dan Yogyakarta lebih memilih hari Jumat Kliwon. Selain memiliki karakteristik baik yang menggambarkan Kemasyuran (Sri Kombang). Hari Jumat sesuai angka neptu berada di Tengah (pancer). Sedangkan Pasaran letak Kliwon juga berada di tengah (pancer). Maka Jumat Kliwon adalah lambang dari diri pribadi sebagai Pancer. Sesungguhnya daya linuwih sejati memang bias dari pengenalan diri pribadi. Ingsun Sejati, Sedulur Sejati, Guru Sejati dan Sukma Sejati semuanya ada dalam diri manusia. Begitu pula dengan hari Selasa Kliwon atau hari Anggara Kasih (Jawa Kuno) memiliki karakteristik yang baik, Sri Rahayu, melambangkan kemuliaan. Namun biasanya ritual pada hari-hari tersebut tidak dijalani dalam sehari saja, tetapi selama beberapa hari. Dengan memakai hitungan Neptu yang memiliki makna keutamaan (daya lebih).

Hari 3 NEPTU 40

Sebagaimana telah diuraiakan di atas, bahwa Hari dan Pasaran memiliki nilai angka yang disebut Neptu. Dalam khasanah ilmu spiritual Jawa banyak amalan ritual ilmu yang mempergunakan puasa selama 40 hari. Dan bila ritual ini dirasa berat atau bersifat mendesak, misalnya keburu untuk segera digunakan. Maka para sesepuh memakai hitungan NEPTU hari dan Pasaran yang bila dijumlahkan hasilnya 40. Maka didapatlah 3 hari berturut-turut yang nilainya setara dengan 40 hari. Yaitu :

  • Selasa Kliwon + Rabu Legi + Kamis Pahing.
  • Rabu Pon + Kamis Wage + Jumat Kliwon.
  • Kamis Wage + Jumat Kliwon + Sabtu Legi.
  • Jumat Pahing + Sabtu Pon + Minggu Wage.
  • Sabtu Kliwon + Minggu Legi + Senin Pahing.

Untuk lebih jelasnya perhatikan keterangan sebagai berikut :

Jumlah Neptu Selasa (3) + Kliwon (8) = 11
Jumlah Neptu Rabu (7) + Legi (5) = 12
Jumlah Neptu Kamis (8) + Pahing (9) = 17
Jika NEPTU 3 hari berturut-turut tersebut dijumlahkan: 11 + 12 + 17 = 40

Jadi menurut para pinisepuh apabila ada amalan ilmu spiritual yang memakai puasa 40 hari, dapat diringkas dengan cukup dijalankan 3 hari berturut-turut saja. Dengan syarat 3 hari tersebut memiliki jumlah Neptu 40.

***

Ki UmarJogja
www.rasasejati.org




You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. Both comments and pings are currently closed.

21 komentar di “Kajian Rahasia Hari bag.2

  • Jefri Tri S. mengatakan:

    Wah, bnyak ilmu yg saya dapat. Pertanyaan2 yg slama ini brnaung dikepala saya akhirnya trjawab sudah… Ayah saya sring dminta cri hari2 bæk. Saya nggak ngrti apa2 tp akhirnya tau jg dri sni… Nuwun, salam sejahtera

  • Kompiang mengatakan:

    Terimakasih atas artikel yang mencerahkan ini. Saya tertarik untuk memahami filosofi dibalik penempatan angka neptu tertentu untuk pasaran tertentu. Maksud saya, apa asal mula atau filosofi kenapa kliwon dapat angka neptu 8 dst?

    Terimakasih sebelumnya.

  • wulan mengatakan:

    ass.wr.wb
    saya ditakdirkan lahir hari jumat paing,apakah berarti watak,rejeki,dan kehidupan saya buruk dan selalu dalam bahaya?Adakah cara untuk perbaikannya apabila saya dalam kondisi seperti itu? Nuwun.wassalam

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Wa alaikum salam wrwb

      - Tidak demikian cara memahami kajian diatas.

      - Saya berkeyaninan selalu ada solusi dari setiap permasalahan hidup manusia.

      Nuwun,

  • Moch.Endriyansyah mengatakan:

    Ass.Wr.Wb.. Slm ta’dzim utk ki umar,smoga sehat slu. Ki sy mau tanya bagaimana cara mengetahui hitungan larangan bulan. Mohon pnjelasannya. Dgn mengucapkan bismillahirrohmaanirrohiim sy mohon ijin kpd ki umar utk mngamalkan hitungan Hari. Hatur Nuhun.. Wslm..

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Wa alaikum salam wrwb

      Saya lebih menyakini adanya larangan dalam tanggal dan bulan adalah oleh sebab karena sejarah kejadian naas seorang tokoh atau kaum. Maka para leluhur memberi rambu-rambu pada tanggal atau bulan tersebut agar kita (sebagai anak cucu) lebih berhati-hati.

      Misalnya tanggal 5 Jumadilawal, menurut leluhur & kitab primbon merupakan hari buruk / hari larangan untuk menggelar hajat pernikahan. Pada umumnya orang mengangapnya tahayul. Padahal sebenarnya itu ada latarbelakangnya, yaitu tanggal tersebut adalah hari Bencana besar, hari dimana runtuhnya kaum Nabi Nuh as, diazab Tuhan, ditenggelamkan dengan banjir besar. Oleh sebab itu tentu tidak cocok bila dipilih untuk menggelar acara hajat pernikahan, lebih tepat dipilih sebagai hari untuk bermuhasabah kepada Tuhan. Dalam petuah leluhur ini kita dapati ada sebuah kearifan.

      Untuk menentukan hari / tanggal / bulan / tahun yang baik untuk suatu keperluan (SAAT BAIK) memang ada rumus matematikanya (menurut leluhur Jawa). Dikenal dengan istilah “Ilmu Petungan”. Hal ini banyak diulas di kitab-kitab Primbon. Atau didunia barat dikenal ilmu Horoscop. Tetapi saya pribadi memiliki cara tersendiri, bukan dengan hitungan rumus matematika (jumlah-kurang-bagi) tetapi dari pendekatan Metafisika.

      Yaitu melalui deteksi diri pribadi. Untuk mempelajarinya harus menyadari dulu tentang Misteri Jagad Besar & Jagad Kecil (“Manunggaling Bawana Ageng lan Bawana Alit”). Ulasan singkat tentang ini bisa disimak di halaman “Manusia & Alam Semesta”. Dari pemahaman itu kemudian kita akan benar-benar menyadari bahwa manusia adalah bagian dari alam. Bila sudah mencapai tingkat ini maka akan terbuka pintu dimensi pemahaman baru, muncul 5 cahaya dengan warna yang berbeda. Setiap cahaya merupakan pancaran inti kehidupan alam semesta termasuk manusia. Sebab memang manusia bagian dari alam. Apa yang ada di alam semesta ada dalam diri manusia, begitu pula sebaliknya. Disini terjadi hubungan timbal balik. Ketika hubungan timbal balik ini selaras maka efek yang ditimbulkan adalah terjadi kenyamanan, kemakmuran, kejayaan atau keberuntungan. Saat itulah disebut sebagai SAAT BAIK (bisa berupa jam, hari, tanggal, bulan atau tahun). Itulah metode yang sampai saat ini saya gunakan.

      Ulasan artikel Kajian Hari diatas sampai tahap ini (Kajian Hari 2) masih dalam tahap sebagai wawasan saja. Agar kita mengerti rahasia dibalik petuah para Guru & leluhur. Langkah selanjutnya Kajian Hari 3 adalah mulai mengenal Rahasia Alam itu sendiri. Untuk pengenalan rahasia Diri Pribadi sudah dibangun dari lelaku amalan-amalan ilmu yang meliputi wirid doa-mantra, puasa terutama Meditasi. Tapi tampaknya para sedulur disini masih sibuk mencari “khasiat” ya?? Hehehe…

      Nuwun

  • anti mengatakan:

    assalamualaikum wr wb
    KI umar saya mau tanya jika kita tonton acara tv dan juga kata orang2 yang mengatakan bahwa malam jumat kliwon itu menyeramkan.terlebih dengan acara2 di tv tiap malam jumat tentang uji nyali/keberanian .dan kebetulan malam ini malam jumat kliwon…… apakah benar begitu KI ? Mohon penjelasannya
    terima kasih

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Wa alaikum salam wrwb

      Hehehe.. tentu saja tidak demikian. Adanya ghaib bukan untuk menakut-nakuti, seperti yang banyak disiarkan di TV (saya rasa itu contoh yang kurang mendidik). Jadi jangan mudah percaya dengan acara TV semacam itu.

      Jumat Kliwon justru dianggap malam yang cukup baik dalam pandangan filosofi Jawa, sebagaimana pembahasan dalam artikel Kajian hari ini. Karakter hari Jumat Kliwon melambangkan kemasyuran.

      Mungkin karena Jumat Kliwon adalah bagian dari rangkaian 3 hari neptu 40, maka banyak digunakan oleh para pencari kesaktian untuk melakukan ritual-ritual ilmu ghaib, maka seolah-olah malam Jumat Kliwon terasa jadi sangat kental aura mistisnya.

      Nuwun,

  • Riyadi mengatakan:

    Assalkm,ki saya mau tanya,dikajian ki umar byk sekali keilmuan yang di ijazahkan dengan memakai puasa naptu 40,ada sebagian orang memulai puasa maghrib ke maghrib lagi,dan ada yang memulainya pukul 24.00 mlm,kira-kira dimana ki unar yang paling baik untuk puasa naptu 40,terima ksh

  • pp mengatakan:

    assallamu allaikum wr.wb.
    Ki sya mau tnyaa,ada 2 prtanyaan,
    1.weton minggu pahing itu cocoknya krja apa?dan rejeki gmna?
    2.weton jumat kliwon itu cocoknya krj apa?dan rejeki nya gmna?
    Mhon ki umar brkenan mnjawab.
    nuwun.

  • khulalul mengatakan:

    trimaksih banyak atas kawruhnya…..

    yang masih mengganjal dan jadi pertanyaan adalah darimanakah angka2 neptu hari dan angka2 neptu pasaran itu didapat?
    misalkan kliwon=8, jum’at=6. angka 8 dan angka 6 itu dulunya didapat dari mana?

  • opan mengatakan:

    assalamualaikum..
    maaf sekedar berkomentar sedikit, kenapa Ki Guru Umar tidak tampil saja di tayangan televisi2 gtu yah, padahal dari segi pemberian penjelasan,penghayatan2 nya dsb banyak yang membuat saya juga insyaAllah yang lainnya merasa tergugah,terhanyut, merasa lebih tenang di hati, dsb gtu … :)
    lain dengan para ustad2 atau da’i2 yg suka ada televisi seperti biasanya :)

  • Ki UmarJogja mengatakan:

    Kamis Kliwon

  • suwungku mengatakan:

    Assalammualikum Ki Umar,saya mau bertanya apakah kalau kita menjalankan puasa mutih di hari 3 Neptu 40 ini , itu juga sama artinya dgn menjalankan puasa mutih 40 hari ?

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Salam

      Secara hitungan nominal sama. Namun secara efek ruhani akan memberi hasil yang berbeda. Ajaran 3 hari neptu 40 ini dimaksudkan untuk mensikapi kondisi & situasi yang sulit untuk dilakukan bila menuruti pakem ilmu. Contohnya bagi kaum hawa yang setiap bulannya ada sirklus haid maka tidak mungkin bisa menjalankan puasa 40 hari. Atau ilmu keburu akan digunakan, misalnya dalam kondisi perang. Atau memang karena kemampuan badan yang tidak kuat untuk menjalankan puasa selama 40 hari. Oleh para sesepuh & pinisepuh Jawa lalu diberi solusi dengan memakai ajaran puasa 3 hari neptu 40.

      Semoga dapat dimengerti

  • yulis mengatakan:

    inilah yang saya tunggu tunggu,ulasan putera jawa yang dikemas dalam bahasa sekarang….teriring doa semoga ki umar mendapat pahala yang berlipat dari Alloh SWt…amin

  • Ety Juminatu mengatakan:

    Saya belakangan ini trtarik menelaah sifat n watak teman2 d ktr, dan setelah baca weton mrk n d hubung2kan dg tulisan tsb d atas …kok ya bnyk cocoknya… Trm ksh atas tambahan ilmu krn skrg sy jd maklum dg ayah sy alm yg lebih kejawen dan sng memuja Semar. Utk diketahui sy lahir 5 maret 1964 dan melihat tlsn d atas sy trmsk sri agung. Mdh2n hal tsb dpt sy ambil hikmahnya, dan dpt menyesuaikannya, bukan hanya sekedar ramalan sj dan mjdkn sikap n watak sy sprt tsb d atas. Sekali lg trima ksh.

    • Ki UmarJogja mengatakan:

      Salam

      Baik atau buruknya sebuah petuah dari leluhur kita terhadap hari & tanggal itu menjadi bahan renungan. Semua ada hikmahnya. Kebenaran & kecocokan sebuah petuah itu tergantung dari pandangan pribadi masing-masing. Ada yang dapat melihat dan ada yang tidak dapat melihatnya. Bagi yang dapat menyadarinya ini dapat dimanfaatkan menjadi sugesti yang positif bagi perkembangan dirinya. Kita bersyukur tumbuh dimasyarakat yang memiliki budaya adiluhung.

      Nuwun





%d blogger menyukai ini: