Kajian Laku Tapa Diam


Laku Tapa Diam

laku diam-2Tanya:

Assalamu alaikum wrwb. Salam hormat, Ki Umar Jogja. Mengapa dalam ritual ilmu-ilmu khodam selalu disyaratkan untuk menyendiri dan tidak bicara dengan manusia?

Jawab:
Wa alaikum salam wrwb. Dalam kitab-kitab klasik ilmu hikmah, bab Rijallul ghaib memang banyak kaifiyyah (lelaku) yang demikian. Disarankan lebih banyak menyepi, sedikit berbicara dengan manusia, dan lebih banyak berdzikir mengagungkan asma Allah.

Pertama, tujuannya adalah berusaha menjaga diri dari keburukan & dosa yang dapat menggagalkan amal & doa. Semakin sedikit berbicara dengan orang lain diharapkan semakin sedikit kemudaratan / dosa yang dapat ditimbulkan dari pergaulan dengan orang banyak. Dosa yang dimaksud terutama dari lisan yaitu ghibah (menggunjing) dan namimah (mengadu domba). Termasuk juga berbohong, gosip, pamer (memuji diri sendiri) dan bicara yang tidak bermanfaat. Sebab akibat dari dosa menggunjing adalah doa menjadi tidak makbul. Hajat dari mengamalkan ilmu tidak terwujud, meskipun telah disertai puasa.
Dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang yang tidak meninggalkan berbicara dusta/bohong, maka tidak dipedulikan oleh Allah SWT apa-apa yang ditinggalkannya selama ia berpuasa. Dan ibadah puasanya tidak akan memperoleh ganjaran.”

Oleh karenanya para Guru ilmu hikmah menyarankan untuk lebih baik berdiam diri, daripada nanti amalan (lelaku) menjadi sia-sia & tidak makbul.

Dalam sebuah riwayat, bahkan untuk menjaga diri dari dosa akibat lisan ini, Khalifah Abubakar Ash-Shiddiq ra. pada suatu ketika memasang batu di mulutnya agar mencegahnya dari berbicara jika terpaksa. Beliau pernah berkata sambil menunjuk mulutnya, “Inilah lidah yang menjerumuskan aku kedalam banyak lembah kerusakan (dosa).

Kedua, selain menjaga diri dari dosa itu, dengan “diam” juga diharapkan pelaku ilmu akan fokus, konsentrasi dalam amalannya, tidak terganggu oleh urusan-urusan sepele duniawi, sehingga mampu melahirkan ketajaman hati.

Kaitannya dengan amalan ilmu hikmah, dari kedua hal diatas itulah nanti akan mudah menerima berkah ilmu hikmah mengetahui hal yang samar, seperti berkomunikasi dengan rijalul ghaib, khodam, Jin, termasuk dengan orang yang sudah meninggal dunia, terutama golongan auliya, waliyullah, para alim ulama. Bi’idznillah, dengan ijin Allah.

Coba petik ilmu dan hikmah dari kisah dalam hadits berikut:

Dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW saat melewati dua buah kuburan, bersabda: ”Kedua mayat ini sedang disiksa. Bukan karena dosa besar. Salah satunya disiksa karena tidak beristinja (cebok) setelah kencing dan yang lain disiksa karena selalu mengadu domba (namimah).” – ada riwayat lain: “karena ghibah”

Kemudian Rasulullah mengambil sebuah pelepah kurma basah dan membaginya menjadi dua, masing-masing ditancapkan pada dua kuburan tersebut. Para sahabat bertanya, “Kenapa engkau berbuat begitu?” Rasulullah menjawab, “Barangkali bisa meringankan siksa keduanya selama belum kering,” (HR. Nasai).

Riwayat Abu Umamah, “Orang-orang mengatakan: Ya Nabi, sampai kapan mereka akan disiksa? Rasulullah menjawab: Ini adalah hal ghaib, hanya Allah yang mengetahuinya. Kalau hati kalian tidak berbeda-beda dan kalau bukan karena pembicaraan kalian yang bermacam-macam, kalian pasti akan mendengar seperti yang sedang aku dengar.

Begitulah kelebihan (karamah) orang yang hatinya khusuk, sedikit bicara, lebih banyak dzikir, akan menjadi peka. Jangankan dimensi Jin / Khodam bahkan suara dari alam kubur pun (dimensi Malaikat) akan dapat dengarnya, dengan ijin Allah.

Demikian jawaban saya, semoga dapat dimengerti.

Nuwun, 

Ki Umar Jogja

rasasejati.org




You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.




%d blogger menyukai ini: